Example 468x60
BeritaDaerah

5 Tokoh Jambi Asal Sarolangun, 1 Diantaranya Telah Dinobatkan Jadi Pahlawan Nasional

2536
×

5 Tokoh Jambi Asal Sarolangun, 1 Diantaranya Telah Dinobatkan Jadi Pahlawan Nasional

Sebarkan artikel ini
5 Tokoh Jambi Asal Sarolangun

Raden Mattaher

Adalah anak dari Pangeran Kusin dan Ratumas Esa (Ratumas Tija) Kedua orangtuanya adalah penguasa di Sikamis, yang saat ini menjadi Desa Kasang Melintang, Kecamatan Pauh, Kabupaten Sarolangun. Raden Mattaher cucu dari Pangeran Adi, saudara kandung Sultan Taha Saifuddin, semasa kehidupannya, Raden Mattaher telah aktif dalam berjuang melawan Belanda. Bahkan, Raden Mattaher dikenal sebagai panglima yang paling ditakuti Belanda.

Saat menyingkirkan Belanda di beberapa daerah meliputi Sarolangun, Merangin, Bungo, Muarojambi, Kumpeh, Pematang Lumut, Merlung, dan Muarotembesi. ia dijuluki Singo Kumpeh oleh prajuritnya karena keberingasannya seperti singa dalam menumpas penjajah.

Raden Mattaher membentuk kantong-kantong serta barisan pertahanan dan perlawanan dari Muara Tembesi sampai Muaro Kumpeh yang fokus menyerang kapal-kapal perang Belanda yang bermuatan personil, obat medis, dan amunisinya yang masuk ke Jambi lewat jalur sungai.

Berkat taktiknya tersebut, Raden Mattaher menjadi sosok yang paling ditakuti oleh Belanda. Pada 1885, Raden Mattaher bersama Sultan Thaha berhasil menenggelamkan kapal perang Belanda di perairan Sungai Kumpeh Muaro Jambi. Perlawanan Raden Mattaher terhadap Belanda kemudian meletus pertama kali di Kumpeh.

Perang ini menjadi perlawanan terlama terhadap Belanda, yaitu dari tahun 1890 hingga 1906, dimana ia berhasil menguasai perang gerilya dan pertempuran maritim.

Semua peperangan di sepanjang Sungai Batanghari membuat Belanda takluk. Perjuangan Raden Mattaher berakir pada 10 September 1907, dimana Ia ditembak mati di rumahnya sendiri dalam sebuah operasi militer Belanda. Ia dikebumikan di komplek pemakaman raja-raja Jambi di tepi Danau Sipin, Kota Jambi. untuk mengenang perjuangan dan nama besarnya, Pemerintah Provinsi Jambi mengabadikan namanya  di RSUD Provinsi Jambi. hingga pada 10 November 2020, Raden Mattaher dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo

Makalam

Demang Makalam lahir di dusun Sekeladi desa Batu Empang, yaitu sebuah desa yang terletak di Kecamatan Batang Asai Kabupaten Sarolangun Provinsi Jambi. Dusun Sekeladi adalah dusun terpencil yang terletak di ujung Kabupaten Sarolangun. Dusun ini dikenal sebagai dusun yang menghasilkan banyak sekali pejuang kemerdekaan terutama pada masa pendudukan Belanda di Jambi.

Tanggal lahir Demang Makalam tidak dapat diketahui secara pasti karena seperti yang sudah kita ketehaui bahwa pada saat itu masayarakat tidak banyak yang bisa baca tulis, yang diketahui hanya tahun lahir nya saja yaitu tahun 1889.

Nama Makalam, sebenarnya adalah Ma’kalam. Berasal dari kebiasaan orang Sekeladi dari Muhammad disingkat jadi Ma’. Setelah beliau asisten demang, oleh Belanda diminta untuk buang (‘). Maka sejak itulah menjadi Makalam. Ibu Makalam bernama Siti Jamilah, sedangkan nama ayahnya tidak diketahui. Makalam memiliki seorang Nektan bernama M. Khatab yang merupakan adik Raja Muko-Muko Bengkulu serta Nek Puyang. Maka dari itu Makalam merupakan seorang bangsawan berdarah biru.

Sewaktu Makalam kecil antara usisa 13-15 tahun beliau pernah dibawa oleh saudaranya yaitu Panglimo Batupang dan Bimbing Alam yang merupakan seorang pejuang untuk berperang melawan Belanda pada tahun 1901. Makalam yang pada saat itu masih kecil dilempar kesemak belukar agar tidak terlihat tentara Belanda. Pengalaman yang terjadi ini membuat Makalam menjadi seorang dengan pribadi yang disiplin, keinginan yang keras serta mempunyai pola pikir yang luas ke depan.

Ia sendiri tidak pernah mengenyam pendidikan formal maupun non-formal karena pada masa penjajahan Belanda khususnya abad ke-19 masyarakat kecil tidak mendapatkan akses pendidikan. Namun, Makalam mempelajari huruf Arab gundul di surau maupun masjid yang ada di lingkungannya.

Meski pun tidak pernah mengenyam pendidikan, namun ia bukanlah manusia kuno yang tidak berpikiran maju. Justru sebaliknya, Makalam memiliki pandangan yang jauh dan luas kedepan.

Pada masa penjajahan Belanda di Jambi beliau pernah menjabat sebagai Kepala Dusun, Rio, Pasirah, Asisten Demang dan Demang. Sedangkan pada masa pendudukan Jepang di Jambi Makalam berperan sebagai pegawai pemerintahan Jepang atau anggota Cuo Sang In (badan pemerintah pusat) dari Jambi sekaligus Gico atau Ketua Cuo Sangikai.

Setelah kemerdekaan, diangkatlah Makalam sebagai Ketua Komite Nasional Indonesia (KNI) di Jambi. KNI inilah yang nantinya akan memutuskan siapa yang akan menjadi kepala pemerintahan di Jambi yang waktu itu masih residen (keresidenan). Ditunjuklah oleh Makalam, orang yang beliau katakan keturunan Raja Jambi, namanya R. Inu Kertapati menjadi Residen. Selanjutnya, Makalam ini ditunjuk oleh pemerintah Jambi sebagai walikota Jambi pertama sejak tahun 1946-1948.

Akhir hidup Makalam menghadap sang pencipta disebabkan oleh penyakit kanker di kepala kiri yang dideritanya selama lebih dari 2 tahun. Tepatnya pada Pagi hari pukul 09.00 WIB, di sebuah rumah Jalan Palembang, Murni, tanggal 17 November 1959 beliau menghembuskan nafas terakhir nya.

Kolonel Abunjani

Adalah salah seorang pejuang dari Jambi. dia lahir di Batang Asai, kabupaten Sarolangun pada tanggal 24 Oktober 1918. Ia merupakan anak Demang Makalam yang berkedudukan di Rantau Panjang Batang Asai. sedangkan ibunya bernama Siti Umbuk berasal dari Dusun Sekeladi Desa Batu Empang Kec Batang Asai.

karena kedudukan ayahnya, Abunjani kecil berkesempatan untuk mencicipi bangku sekolah Formal. Pada usia 8 tahun Abunjani bersama kakaknya, M. Kamil, dikirim ke Jambi untuk bersekolah di bawah asuhan Ali Sudin (keponakan Makalam) yang saat itu (1926) telah bekerja sebagai jurutulis (klerk) di kantor Kontrolir Jambi, maka tak mengherankan apabila M.Kamil dan Abujani mahir berbahasa Belanda.

Secara berturut-turut, tahun 1931 Abunjani berhasil menamatkan pendidikan di Hollandsc-Inlandsche School (HIS) selama 7 tahun dan tahun 1934 menamatkan pendidikan di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Bandung. Pada 1940 Abunjani mengikuti pendidikan di Middelbare Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaar (MOSCVIA) di Bandung , tetapi tidak tamat karena berlangsungnya pendudukan Jepang.

Pada masa pendudukan Jepang ini Abunjani menamatkan pendidikan di Shonan Kao Kun Renjo (Sionanto) di Singapura selama 1 tahun. Abunjani kemudian diangkat sebagai asisten Ki Imuratyo. Pendidikan militer ini kemudian diteruskan ke akademi militer Giyugun di Pagaralam, Lahat dengan pangkat tamatan Letnan Dua (Shoi). Alumni pendidikan Angkatan Darat (Kanbu Kyoyiku tai) Jepang ini merupakan cikal bakal tentara nasional di masing-masing daerahnya. Abunjani sebagai Sudantyo Giyugun dari tahun 1942-1945 yang mempunyai kemampuan bahasa Belanda, Inggris, Jepang sangat berguna dalam kiprahnya di dunia bisnis selepas menanggalkan karir militernya.

Karir militer Abunjani dimulai pasca kemerdekaan. Pada 22 Agustus 1945 Abunjani merintis terbentuknya Angkatan Pemuda Indonesia (API) yang merupakan bagian dari BKR (Badan Keamanan Rakyat). BKR nantinya menjadi cikal bakal Tentara Nasional Indonesia (TNI). Selanjutnya Abunjani diangkat sebagai komandan BKR daerah Jambi dengan jabatan Kolonel. Hingga tahun 1949, jabatan Kolonel Abunjani adalah komandan Kodam Garuda Putih Jambi.

Adanya kebijakan rasionalisasi di kalangan TNI, pangkat Kolonel Abunjani diturunkan menjadi Letnan Kolonel. Walaupun demikian, Letnan Kolonel Abunjani tetap di militer dengan jabatan rangkap sebagai Wakil Gubernur Militer Sumatera Selatan khusus daerah Jambi, juga sebagai Komandan STD sampai pertengahan Januari 1950.Terhitung Februari 1950 Letnan Kolonel Abunjani mengundurkan diri dari TNI beralih profesi menjadi seorang pengusaha di Jambi dan Jakarta.

Salah satu peran Abunjani dalam menunjang perjuangan di masanya adalah membentuk Badan Keuangan Perjuangan yang memobilisasi pedagang karet ke Singapura dengan menyisihkan 10% keuntungan untuk perjuangan. Usaha tersebut selain dapat membantu perjuangan Pemerintah Pusat, sewa-beli Pesawat Catalina (RI 05) sebagai pesawat penghubung ke Sumatera Barat maupun Yogyakarta dalam jaringan pemerintahan, juga memasok perlengkapan dan perbekalan pasukan dengan sistem barter komoditi lada, vanili, karet dan lain-lainya.

Peran yang perlu dicatat kepemimpinan Letnan Kolonel Abunjadi adalah memindahkan pusat pemerintahan dan pertahanan militer saat serangan Belanda pada 29 Desember 1948. Bersama dengan Rd. Inu Kertapati dan M. Kamil mengungsi ke pedalaman, tetapi terhenti di Sengeti. Rd. Inu Kertapati kembali ke Jambi untuk menenangkan keluarga dan masyarakat kota Jambi oleh bombardir pesawat dan serangan tentara Belanda melalui Kenali Asam dan Palmerah. Pada 1 Januari 1949 terbitlah surat kuasa Residen Jambi Rd. Inu Kertapati kepada M. Kamil, Bupati Jambi Hilir untuk meneruskan Pemerintahan Darurat Keresidenan Jambi. Dalam rapat antara unsur pemerintah dan militer di Tebo menghasilkan keputusan bahwa H. Baksan yang saat itu menjabat sebagai Bupati Jambi Ulu sebagai Residen Pemerintah Darurat Keresidenan Jambi dan Pusat Komando Militer dipindahkan ke Bangko. Walaupun mengalami berbagai gempuran, perjuangan dan pemerintahan darurat berjalan sebagaimana mestinya.

Nama besar Abunjani dijadikan nama jalan di kota Jambi dan beberapa kota lain di jambi lalu dijadikan nama rumah sakit umum di Bangko.

 

H.Muhammad Kamil

Dia Adalah Wali Kota Jambi ke-2 dengan masa jabatan 1948–1950, kemudian dia ditunjuk menjadi Bupati Merangin ke-1 untuk masa jabatan 1950 –1952. Dia Lahir pada 15 Juli 1910 dii Dusun Sekeladi Desa Batu Empang Kec  Batang Asai Kabupaten Sarolangun, Meninggal 12 Maret 1966  dalam usia 55 tahun, Ayahnya adalah Makalam dan  Ibunya Siti Umbuk, untuk mengenang jasanya, nama HM Kamil diabadikan nama ruas jalan dikota Jambi dan kota lain di Provinsi Jambi

Abdul Manap

Adalah seorang Birokrat dan politikus asal Jambi. Ia menjabat sebagai Pejabat Sementara Gubernur Jambi dari tahun 1967 hingga 1968 dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari tahun 1971 hingga 1982.

Dia lahir di Desa Muara Talang, Kec Batang Asai Kabupaten Sarolangun pada Tahun 1908, Meninggal pada 28 Maret 1988 dalam usia 80 tahun, dua orang putranya pun mengikuti jejaknya yaitu Zoerman Manap dan Arifien Manap. Nama besarnya pun dijadikan nama RSUD di Kota Jambi.

Dikutip dari berbagai cerita Sejarah jambi, semoga dapat memberikan inspirasi bagi anak muda di Kabupaten Sarolangun. (Ang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *